Mobil Matic Lebih Aman Melibas Banjir

0

Musim hujan. Banjir di mana-mana. Buat Anda yang punya mobil matic, nggak usah panik. Mengemudikan mobil matic untuk menerobos banjir atau genangan air, lebih mudah, nyaman dan aman dari pada mobil manual.

Apa saja keuntungan mobil matic dibanding mobil manual dan bagaimana cara yang benar mengemudikan mobil matic untuk menerobos jalanan banjir/genangan air? Berikut ini analisa dari AT – CVT Diagnostic & Repair Specialist pada website mobil matic www.kompasmatic.com:

Keuntungan Mobil Matic

1. Mobil matic dilengkapi Torque Converter (TQ) atau pengkonversi torsi yang bentuknya seperti kue donat dalam unit transmisi. Dengan adanya TC, mobil matic tidak butuh pedal kopling layaknya mobil bertransmisi manual. Jadi pergeseran tuas transmisi dalam rangka pemilihan mode pengoperasian bisa dilakukan tanpa harus menekan pedal kopling.

2. Karena ada TC membuat kaki kiri bebas bergerak, tidak terpancang pada pedal kopling. Gerak kaki kiri yang bebas sangat membantu pengemudi dalam mengatur pengereman pada saat kaki kanan tidak bisa lepas dari pedal gas, karena harus menjaga putaran mesin tetap stabil supaya tidak mogok.

3. Umumnya putaran mesin mobil matic saat idle (langsam) lebih tinggi 100 RPM dibanding mobil manual. Dengan putaran idle yang lebih tinggi, memperkecil kemungkinan mesin mobil mendadak mati karena tekanan atau beban mobil yang berat saat dihempas atau menerjang genangan/banjir.

4. Unit transmisi otomatis cukup aman terkena empasan air. Karena di setiap bagian dalam transmisi yang terhubung dengan luar, selalu dilengkapi dengan karet seal. Misalnya, ada seal untuk penutup servo, bak penampung oli, Manual Lever Position (MLP), juga as roda dan jalur kabel dari valvebody.

5. Socket-socket penghubung jaringan kelistrikan pada unit transmisi otomatis ke Transmission Control Unit (TCU) atau Powertrain Control Unit (PCU) umumnya dilengkapi dengan seal penahan air. Memang masih ada soket yang memungkinkan air menerabas masuk ke dalam. Tetapi sekalipun socket tanpa diduga (lebih baik dihindari) kemasukan air, transmisi otomatis secara manual masih bisa berfungsi. Ibaratnya pasokan listrik ke unit transmisi terputus sekalipun, mobil masih bisa jalan. Meski begitu, bukan berarti Anda bisa seenaknya “merendam” unit transmisi otomatis. Mengukur ketinggian genangan/banjir agar jangan sampai melampaui ketinggian socket-socket dalam transmisi adalah langkah bijaksana untuk menghindari kerusakan.

6. Mobil matic dilengkapi dengan fasilitas engine break. Pada saat pilihan mode pengoperasian transmisi otomatis di 1/L dan 2, engine break bekerja. Pilihan mode pengoperasian pada tingkat percepatan lebih rendah membawa efek engine break lebih kuat. Ini berguna saat Anda melaju lepas dari banjir dan rem masih dalam kondisi basah/licin sehingga belum bisa mencengkeram dengan baik. Dengan memanfaatkan pilihan mode pengoperasian gigi 1/L, peran engine break akan sangat membantu menahan laju mobil saat pedal gas dilepas.

7. Karena mengemudikan mobil matic nyaman dan tidak capek, apalagi dalam kondisi macet, karena tidak perlu terus-menerus menekan pedal kopling, secara psikis kondisi mental pengemudi lebih stabil dan fisik tidak lelah. Pengemudi juga tidak stress sehingga lebih siap melibas genangan air atau banjir.

Tehnik Nyetir Mobil Matic Melintasi Banjir atau Genangan

1. Siapkan mental Anda, kalau nyali Anda ciut lebih baik urungkan niat melibas banjir atau genangan. Bisa-bisa Anda panik di tengah jalan, mobil terhenti lalu mogok.

2. Ukur ketinggian air banjir/genangan. Ini penting dilakukan untuk mengukur seberapa mampu mobil matic Anda menerjang banjir/genangan. Caranya gampang, amati mobil lain yang baru melibas banjir/genangan di lokasi yang sama. Juga pastikan kondisi jalan aman, tidak berlubang.

3. Setelah mengukur ketinggian air, sebelumnya, Anda tentunya sudah tahu seberapa tinggi kira-kira posisi alternator (sumber pasokan arus listrik) ke battery dan ketinggian socket-socket transmisi otomatis. Mengukur ketinggian alternator penting, agar jangan sampai setelah Anda melibas genangan/banjir justru terjadi gangguan pasokan daya ke battery akibat hubungan arus pendek. Tanpa pasokan daya yang cukup, kinerja mobil dan transmisi otomatis terganggu.

4. Setelah ketiga langkah di atas ok, misalnya ketinggian air dalam kondisi wajar, sesuai kondisi mobil matic Anda, segera geser tuas trensmisi ke posisi 1/L. Pilihan pengoperasian di gigi 1/L karena di posisi itu tenaga mesin besar dan cukup kuat untuk menerjang banjir.

5. Nggak perlu ngebut, yang penting jaga putaran mesin agar konstan. Kalau Anda ngebut, bisa timbul cipratan air yang berlebih dan bisa memicu mesin mogok.

6. Sepanjang mesin masih tetap nyala, nggak perlu khawatir air masuk lubang knalpot. Dorongan gas buang hasil kompresi di ruang bakar mesin cukup untuk menghalau air yang mau menerobos lubang knalpot.

7. Agar mesin tetap bisa menyala, butuh pasokan bahan bakar dan udara. Jalur bahan bakar bertekanan dalam kondisi tertutup, jadi aman bila terkena genangan air/banjir. Yang perlu diwaspadai justru moncong lubang hisap udara menuju filter udara. Kalau air sampai menyentuh mulut lubang isap, dan sampai terisap hingga ke filter udara, lalu menembus throttle body dan manifold, akan mengacaukan campuran bahan bakar dan udara, sehingga berpotensi mesin mogok. Lebih baik perlahan saja saat melintas.

8. Bila memungkinkan, hindari berhenti di tengah genangan atau banjir. Empasan arus air dari mobil lain yang melintas bisa memicu naiknya permukaan air di ruang mesin. Tapi buat Anda yang nyetir mobil matic, nggak usah panik. Kalaupun sampai karena kondisi sangat terpaksa, mobil harus berhenti di tengah banjir atau genangan, upayakan putaran mesin mobil tetap konstan. Caranya biarkan kaki kanan tetap menahan pedal gas untuk menahan putaran mesin. Pada saat sama gunakan kaki kiri untuk mengatur laju/kecepatan mobil (pengereman). Kalau memang sangat terpaksa, mobil matic harus berhenti, jangan panik. Tekan sedikit pedal gas, lalu injak pedal rem sampai mobil berhenti. Untuk menghindari terjadi stall/guncangan di mesin, segera geser tuas transmisi ke posisi N sambil tetap tahan pedal rem dan jaga putaran mesin agar jangan terlalu tinggi, juga jangan sampai mesin mati. Di sinilah keunggulan mobil matic dibanding manual.

9. Ketika ruang untuk melaju kembali tersedia, sambil kaki kiri masih menekan pedal rem dan kaki kanan mengatur putaran mesin agar konstan, jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah (sedikit di atas idle), geser tuas transmisi langsung ke posisi 1/L, lepas pedal rem dan mulai mobil jalan lagi perlahan-lahan. Jaga putaran mesin agar konstan.

10. Hindari menekan gas terlalu dalam. Apalagi dalam kondisi air cukup tinggi di ruang mesin karena semakin kencang putaran mesin daya isap udara di moncong lubang angin semakin kuat dan semakin berpotensi menghisap air.

11. Setelah melewati genangan, pertahankan posisi tuas transmisi di 1/L untuk memanfaatkan engine break. Karena bisa jadi kampas rem masih licin dan belum menggigit. Tetap melaju dalam kecepatan rendah, mengerem kecil berulang-ulang. Agar kampas rem kering dan kembali menggigit.

12. Sebelum Anda melanjutkan perjalanan, lihat lampu indikator Check Engine atau Malfunction Indicator Lamp/MIL berkedip atau tidak. Kalau berkedip/menyala, segera hentikan mobil Anda dan periksakan ke teknisi transmisi otomatis yang berpengalaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here